Selasa, 18 April 2017

REVIEW JURNAL PSIKOLOGI






Tema
Psikoanalisis  Freud
Judul Jurnal
Explanations of Freud’s Psychoanalysis Theories on the Lives and Works of Some Western Artist: An African Perspective
Nama Jurnal
African Research Review
Volume & Halaman
Volume 04, hal 277 - 233
Tahun
2010
Penulis
Ese Odokuma
Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa sejumlah artis Eropa Barat diatur oleh pikiran bawah sadar mereka. Metode yang diadopsi untuk memastikan fakta ini didasarkan pada teori psikoanalisis. Hal ini diyakini bahwa penelitian ini akan membantu untuk pengganti pikiran sub-sadar artis serta dampak proses ini memiliki dalam pengembangan Art Barat.
Metode Penelitian
Dalam analisis menggunakan metode data yang berasal dari empat karya yang dipilih seniman asal Eropa Barat. Yaitu, (1). Paul Klee (Paul Klee. Sekitar ikan 1926. Minyak di atas kanvas, 64.7x63.8cm. Museum of Modern Art New York. Courtesy of William Fleming. Seni dan cita-cita, 1995). (2). Leonardo da Vinci. Mona Lisa (1503-1505) minyak di Kayu (76.8x 53,3 cm) Musee du louvre, Paris. Courtesy Laurie Schneider Adams, A History of Western Art, 2001. (3). James Abboth Mcneil Whistler: Arrangement in Black dan Gray (Potret ibu artis) 1871. Minyak di atas kanvas, 1.45x1.64m. Musee d’Orsay, Paris. Courtesy of Laurie. S. Adams “A History of Western Art, 2001, dan (4). Constantin Brancusi, Bird dalam ruang (1928) Bronze cor antik. 137.2x 21,6 x 16.5cm) Museum of Modern Art, New York. Courtesy of laurie.S.Adams. Sejarah Seni Barat, 2001.
Alat Ukur
Tidak dijelaskan
Hasil Penelitian
Dalam survei ini, kita dapat melihat bagaimana psikoanalisis menunjukkan sifat lembam yang terkandung dalam pikiran individu. Melalui mimpi, lidah slip atau catatan sejarah gaya artistik tertentu dan konsep lahir. Konsepsi sifat-sifat ini tidak disengaja atau disengaja tetapi terikat pada asal-usul artis dan yayasan. Karena seni adalah ekspresif di alam, ia cenderung untuk menemukan jalan keluar, baik melalui lukisan, patung atau bentuk seni lainnya ekspresi. Dengan demikian, perbedaan tertentu secara emosional dipecahkan. Seperti “konflik oedipal” di mana beberapa perjuangan seniman untuk mengatasi dampaknya beriak. Tidak hanya itu adalah pemahaman dan penafsiran mimpi di alam bawah sadar, yang tidak selalu kohesif. Pengetahuan tentang psikoanalisis memiliki tidak kecil, dibantu dalam pemahaman dan transfer elemen mimpi ini dekat ke dalam penggambaran sadar, tidak hanya itu telah kaya mempengaruhi isi dari seni Barat sehubungan dengan berbagai gaya dan gerakan digambarkan dalam masyarakat mereka.
Review
Jurnal ini tidak menjelaskan mengenai alat ukur yang digunakan. Berdasarkan analisis karya, bukti namun menunjukkan bahwa metode yang digunakan dalam menilai karya seni ini mengungkapkan bahwa dalam beberapa bentuk seni Eropa Barat, pikiran sub-sadar terus bekerja. Dan bahwa aspek psikologis dari beberapa karya-karya mereka menggambarkan banyak kehidupan mereka termasuk sisi positif dan negatif dari kepribadian mereka. Dari perspektif Afrika, ada banyak emosi dan ekspresi dalam karya-karya mereka. Karya-karya tidak hanya berbicara kepada penonton tapi memberitahu kita apa artis pergi melalui atau merasa sementara memproduksi karya seni. Spiritualitas juga memainkan peran penting dalam karya-karya mereka karena mencerminkan keadaan pikiran dan hati mereka.


Kamis, 16 Maret 2017

PERBEDAAN KONSELING DAN PSIKOTERAPI


Pengertian Konseling
Menurut Schertzer dan Stone (1980)
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.

Menurut Jones (1951)
Konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Dimana ia diberi panduan pribadi dan langsung dalam pemecahan untuk lkien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.

Prayitno dan Erman Amti (1999)
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. 

       Menurut Tolbert (1959)
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.

Menurut Winkell (2005 : 34)
Konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli / klien secara tatap muka langsung dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap bebagai persoalan atau masalah khusus maka masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi semuanya.




Menurut Syamsu Yusuf dan A.Juntika Nurhisan dalam buku Landasan Bimbingan dan konseling,setidaknya terdapat tujuh fungsi bimbingan dan konseling, fungsi tersebut adalah:
1. Pemahaman
Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konselung untuk membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dalam hal ini adalah potensi-potensi yang ia miliki dan juga pemahaman tentang lingkungannya meliputi lingkungan pendidikan, pekerjaan, dan norma agama.
2. Preventif
Fungsi preventif yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik.
3. Pengembangan
Fungsi pengembangan yaitu konselor selalu berupaya untuk menciptakan suasan belajar yang kondusif untuk memfasilitasi perkembangan siswa.
4. Perbaikan (Penyembuhan)
Fungsi Perbaikan berkaitan erat dengan upaya memberikan bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek Pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
5. Penyaluran
Fungsi penyaluran adalah fungsi untuk membantu individu memilih kegiatan ekstrakulikuler, jurusan, dan program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
6. Adaptasi
Fungsi membantu para pelaksana pendidikan khususnya konselor, guru atau dosen untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan dan kebutuhan individu.
7. Penyesuaian
Fungsi dalam membantu individu agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan kontruktif terhadap program pendidikan, peraturan sekolah, atau norma agama.




Tujuan Bimbingan dan Konseling
Tujuan Pemberian layanan Bimbingan dan konseling ialah agar individu dapat :
  1. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang
  2. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin
  3. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya
  4. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.



Pengertian Psikoterapi
Menurut Wolberg (1954), psikoterapi adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah-masalah yang dasarnya emosi, dimana seseorang yang terlatih dengan seksama membentuk hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang terhambat.

Corsini (1989) Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress).

Psikoterapi (dalam Sylvia) adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik, dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin hubungan kerjasama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi ketidakserasian atau gangguan mental.




 Berikut ini akan diuraikan mengenai tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoterapi yang banyak peminatnya, dari dua oran tokoh yakni Ivey, et al (1987) dan Corey (1991):
  • Tujuan psikoterapi dengan pendekatan      psikodinamik, menurut Ivey, et al (1987): membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
  • Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisi, menurut Corey (1991): membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
  • Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987): untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhannya yang unik.
  • Tujuan psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi, menurut Corey (1991): untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenai hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
  • Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, menurut Ivey, et al (1987): untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
  • Sehubung dengan terapi behavioristik ini, Ivey, et al (1987) menjelaskan mengenai tujuan pada terapi kognitif-behavioristik, yakni: menghilangkan cara berfikir yang menyalahkan diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Corey (1991) merumuskan mengenai kognitif-behavioristik dan sekaligus rasional-emotif terapi dengan: menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara rasional dan toleran.
  • Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, et al (1987): agar seseorang menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
  • Corey (1991) merumuskan tujuan terapi Gestalt: membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. Untuk merangsang menerima tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
Dapat disimpulkan bahwa beberapa tujuan psikoterapi antara lain :
  • Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
  • Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat)
  • Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk dijangka panjang)
  • Restrukturisasi (meningkatkan perubahan yang terus menerus kepada pasien).



UNSUR-UNSUR PSIKOTERAPI
Masserman (Karasu 1984) telah melaporkan tujuh “parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk :
  • Peran sosial (martabat) psikoterapis,
  • Hubungan (persekutuan terapeutik),
  • Hak,
  • Retrospeksi,
  • Re-edukasi,
  • Rehabilitasi,
  • Resosialisasi dan rekapitulasi.
Unsur – unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi. Ciri-ciri ini dapat diubah dengan berubahnya tujuan terapeutik, keadaan mental dan kebutuuhan pasien.



Perbedaan Konseling dan Psikoterapi
      Apabila kita tinjau dari definisi kedua permbahasan tersebut konseling Menurut Schertzer dan Stone (1980) Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Sedangkan psikoterapi menurut Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
Dari dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.
Sedangkan psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya emosional dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian ke arah yang positif.
Perbedaan konseling dan psikoterapi didefinisikan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut:

KONSELING
PSIKOTERAPI
Klien
Pasien
Gangguan yang kurang serius
Gangguan yang serius
Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
Berhubungan dengan pencegahan
Berhubungan dengan penyembuhan
Lingkungan pendidikan dan non medis
Lingkungan medis
Berhubungan dengan kesadaran
Berhubungan dengan ketidaksadaran
Metode pendidikan
Metode penyembuhan



Sumber:
Jones, A.J. (1951). Principle of Guidance and Pupil Personnel Work. New York: McGraw-Hill Book Company
Prayitno dan Anti, E. (1994). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Winkel, W.S. (1997). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo
Tolbert, E.L. (1986). Counseling For Career Development. Boston: Hougthon Meflin Co.
Wolberg L.R. What is Psychotherapy? in The Technique os Psychotherapy, Part One, Grune & Stratton, New York, San Fransisco, London,1977, 3-4, 15-6 
Corsini, Raymond J., editor, 2007, Concise Encyclopedia of Psychology. New York, Wiley Interscience Publication
Yusuf, Syamsu & A. Juntika Nurihsan. (2010). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya
Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, S.D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia


                                               



Sabtu, 03 Desember 2016

#SIP ARTIFICIAL INTELLIGENT (AI)



Pengertian Artificial Intelligent
             Menurut John McCarthy (dalam Dahria, 2008), artificial intelligence berfungsi untuk mengetahui dan memodelkan proses-proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat meniru perilaku manusia. Setiawan (dalam Achmad, 2006) mengatakan artificial intelligence adalah cabang ilmu computer yang mempelajari otomatisasi tingkah laku kecerdasan. Banyak ahli yang mengatakan pula bahwa artificial intelligence memiliki hubungan dengan du aide dasar, yaitu menyangkut studi proses berpikir manusia dan mempresentasikan proses tersebut melalui sebuah mesin seperti computer dan robot.
             Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence merupakan salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan manusia. Pada awal diciptakannya, komputer hanya difungsikan sebagai alat hitung saja. Namun seiring dengan perkembangan jaman, maka peran komputer semakin mendominasi kehidupan umat manusia. Komputer tidak lagi hanya digunakan sebagai alat hitung, lebih dari itu, komputer diharapkan untuk dapat diberdayakan untuk mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan oleh manusia.


      Sejarah Artificial Intelligent

   Artificial intelligence merupakan inovasi baru di bidang ilmu pengetahuan. Mulai ada sejak muncul komputer modern, yakni pada 1940 dan 1950. Ilmu pengetahuan komputer ini khusus ditujukan dalam perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam sistem kecerdasan komputer.
   Pada awalnya, kecerdasan buatan hanya ada di universitas-universitas dan laboratorium penelitian, serta hanya sedikit produk yang dihasilkan dan dikembangkan. Menjelang akhir 1970-an dan 1980-an, mulai dikembangkan secara penuh dan hasilnya berangsur-angsur dipublikasikan di khalayak umum. Permasalahan di dalam kecerdasan buatan akan selalu bertambah dan berkembang seiring dengan laju perkembangan zaman menuju arah globalisasi dalam setiap aspek kehidupan manusia, yang membawa persoalan-persoalan yang semakin beragam pula.
   Program kecerdasan buatan lebih sederhana dalam pengoperasiannya, sehingga banyak membantu pemakai. Program konvensional dijalankan secara prosedural dan kaku, rangkaian tahap solusinya sudah didefinisikan secara tepat oleh pemrogramnya. Sebaliknya, pada program kecerdasan buatan untuk mendapatkan solusi yang memuaskan dilakukan pendekatan trial and error, mirip seperti apa yang dilakukan oleh manusia.


            Hubungan Artificial Intelligen dan Kognisi Manusia
      Artificial intelligence adalah salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia. Kecerdasan buatan juga merupakan suatu sistem informasi yang berhubungan dengan penangkapan, pemodelan dan penyimpanan kecerdasan manusia dalam sebuah sistem teknologi informasi sehingga sistem tersebut memiliki kecerdasan seperti yang dimiliki manusia. Sistem ini dikembangkan untuk mengembangkan metode dan sistem untuk menyelesaikan masalah, biasanya diselesaikan melalui aktifivitas intelektual manusia, misal pengolahan citra, perencanaan, peramalan dan lain-lain, meningkatkan kinerja sistem informasi yang berbasis komputer.
       Artificial intelligence merupakan suatu sistem yang membuat mesin secerdas manusia. Untuk itu, sistem ini harus berpedoman pada sistem kognisi manusia, yaitu cara berfikir manusia, cara manusia bernalar, mengenali suatu stimulus, memecahkan masalah, mengingat, dan mengambil keputusan serta merespon dan bertindak. Dengan demikian para peneliti ilmu ini dapat membuat suatu sistem, aplikasi, atau program yang dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan manusia dengan lebih baik, menggunakan perangkat mesin yang canggih untuk mempermudah pekerjaan manusia dikehidupan nyata.


 Artificial Intelligent dan Expert System
    Sistem Pakar (Expert System) adalah usaha untuk menirukan seorang pakar. Biasanya, Sistem Pakar berupa perangkat lunak pengambil keputusan yang mampu mencapai tingkat performa yang sebanding sengan seorang pakar dalam bidang problem yang khusus dan sempit. Ide dasarnya adalah kepakaran ditransfer dari seorang pakar atau sumber kepakaran lain ke komputer, pengetahuan yang ada di simpan dalam komputer, dan pengguna dapat berkonsultasi pada komputer itu untuk suatu nasehat, lalu kemudian komputer dapat mengambil inferensi (menyimpulkan, mendeduksi, dll) seperti layaknya seorang pakar. Dan selanjutnya komputer akan menjelaskan ke pengguna tersebut, dengan alasan-alasannya bila perlu.
     Eliza, Parry dan Nettalk adalah beberapa contoh dari chatterbot. Chatterbot merupakan sebuah program komputer yang dirancang untuk menstimulasi percakapan intelektual dengan satu atau lebih manusia secara audio maupun teks. Chatterbot dikategorikan sebagai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, yang dimanfaatkan untuk tujuan praktis seperti bantuan online, layanan personal, atau diskusi informasi, dalam hal ini dapat dilihat fungsi program sebagai suatu jenis agen percakapan (conversational agent)
  • ELIZA 

Program yang dipublikasikan oleh Joseph Weizenbaum pada tahun 1966, yang dapat mengelabui pengguna hingga mempercayai bahwa mereka sedang bercakap-cakap dengan manusia nyata. Tujuan dari pembuatan program ini adalah untuk meniru pembicaraan antara seorang psikolog dan pasiennya, dalam hal ini, Eliza berperan sebagai psikoterapis dan memberikan saran dan nasihat tentang masalah penggunanya. Kunci metode operasional Eliza melibatkan rekognisi dari isyarat kata-kata atau kalimat input, dan output berupa tanggapan yang telah dipersiapkan atau diprogram, yang dapat meneruskan percakapan dengan suatu cara sehingga tampak bermakna.

  • PARRY

Parry dibuat pada tahun 1972 oleh psikiatris Kenneth Colby ketika di Universitas Stanford. Parry bertujuan untuk merefleksikan pikiran pasien dengan mental paranoid yang serius. Program ini menjalankan model mentahan dari prilaku schizophren paranoid berdasarkan konsep, konseptualisasi dan kepercayaan (penilaian tentang konseptualisasi : penerimaan, penolakan, dan netral). Ini juga menggunakan strategi percakapan, lebih serius dan merupakan program lanjutan dari Eliza. 

  • NETTALK

Connectionism adalah gerakan dalam ilmu kognitif yang berharap untuk menjelaskan kemampuan intelektual manusia menggunakan jaringan syaraf tiruan (juga dikenal sebagai “jaringan syaraf” atau “jaring syaraf”). jaringan syaraf disederhanakan model otak terdiri dari sejumlah besar unit (young analog neuron) bersama-sama dengan bobot yang mengukur kekuatan hubungan antara unit. Model ini berat efek dari sinaps yang menghubungkan satu neuron yang lain. Percobaan pada model semacam ini telah menunjukkan kemampuan untuk mempelajari keterampilan seperti pengenalan wajah, membaca, dan deteksi struktur gramatikal sederhana. Connectionists telah membuat kemajuan yang signifikan dalam menunjukkan kekuatan jaringan saraf untuk menguasai tugas-tugas kognitif. Berikut adalah tiga percobaan terkenal yang telah mendorong connectionists untuk percaya bahwa JST model yang baik dari kecerdasan manusia. Salah satu yang paling menarik dari upaya tersebut adalah kerja 1987 Sejnowski dan Rosenberg di jaring yang dapat membaca teks bahasa Inggris disebut NETtalk. Pelatihan ditetapkan untuk NETtalk adalah basis data yang besar terdiri dari teks bahasa Inggris ditambah dengan output yang sesuai fonetik-nya, yang ditulis dalam kode yang cocok untuk digunakan dengan synthesizer pidato. Tape kinerja NETtalk di berbagai tahap pelatihan mendengarkan sangat menarik. Pada awalnya output random noise. Kemudian, bersih suara seperti itu mengoceh, dan kemudian masih seolah-olah itu adalah berbahasa Inggris double-talk (pidato yang dibentuk dari suara yang menyerupai kata dalam bahasa Inggris). Pada akhir pelatihan, NETtalk melakukan pekerjaan yang cukup baik mengucapkan teks diberikan. Selain itu, kemampuan ini generalizes cukup baik untuk teks yang tidak disajikan pada training set.




Rancangan Interface Yang Berkaitan Dengan Ilmu Psikologi
   Dalam rancangan interface yang akan dijabarkan dibawah ini adalah web psikologi yang bernama iPersonic, sebuah situs psikologi tes kepribadian dan dikembangkan oleh psikolog. Felicitas Heyne, pengembang dan pendiri tes kepribadian iPersonic adalah psikolog terkenal dan penulis buku. Beliau adalah anggota afiliasi internasional American Psychological Association (APA). Berikut adalah rancangan interface dari tes kepribadian iPersonic.net.

Akan muncul tampilan home seperti dibawah ini ketika membuka web http://www.ipersonic.net/  dan kita bisa langsung memulai tes kepribadian yang dilakukan dalam waktu 60 detik. Lalu pilih mulai tes gratis.

Kemudian dalam tes tersebut terdapat sekitar 4 buah pernyataan yang dimana anda diminta untuk memilih pernyataan yang sesuai dengan diri anda.

Setelah anda selesai kemudian akan ada hasilnya dari tes tersebut, anda bisa langsung melihat hasilnya dan tipe kepribadian apa yang anda miliki.

Selain terdapat hasil dan tipe kepribadian yang anda miliki, terdapat pula score dari hasil tes tersebut.

Apabila anda menginginkan saran karir untuk tipe kepribadian seperti yang ada miliki, maka anda dapat memilih get career advice pada bagian bawah score.

Berikut merupakan saran karir dari tipe kepribadian yang anda miliki, anda bisa melihat apakah pekerjaan yang anda lakukan saat ini atau pekerjaan yang anda inginkan nanti sesuai dengan tipe kepribadian yang anda miliki.


Selain dapat melihat saran karir untuk tipe kepribadian yang anda miliki, anda juga bisa melihat terdapat profil pekerjaan apa yang sesuai untuk tipe kepribadian yang anda miliki. Profil iPersonic Karir akan memberikan wawasan yang sangat berharga dalam individualitas anda. Dimana terdapat motivasi untuk bidang pekerjaan dan pola kerja yang terbaik dalam mengakomodasi individu serta memberikan kesempatan penting untuk mencerminkan dan membuat pilihan yang dapat menentukan hidup anda lewat pekerjaan atau kerir yang anda miliki.


DAFTAR PUSTAKA:
Kusumadewi, S. (2003). Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Russel, S and Norvigm P : Artificial Intelligence : A modern Approach. Prentice Hall, Second Edition.
Kusrini. 2006. Sistem pakar, teori dan aplikasi. Andi: Yogyakarta. Pertemuan 1. Pengantar kecerdasan buatan.
Solso R.L, Machlin O.H & Machlin M.K. (2007). Psikologi Kognitif, Terjemahan : Rahardanto M. & Batuadji K. Jakarta : Erlangga
http://www.ipersonic.net/






 

Sarah Kusuma Dewi Fiqisyam Template by Ipietoon Cute Blog Design